Latest News

Minggu, 06 Agustus 2017

Jalan Braga Bandung Wisata di Jalan Legendaris Keindahan Indonesia

Wisata Jalan Braga ialah jalan tertua di Kota Bandung. Pada masa lalu, jalan ini dinamakan dengan Jalan Pedati, disini terdapat sekian banyak  lokasi peninggalan zaman Belanda. Tempat Wisata di Bandung Pada masa kolonial dulu Jalan Braga merupakan area perbelanjaan ruang belajar atas tempat semua pejabat dan petinggi Belanda berbelanja.


Saat ini terdapat sejumlah toko dan kafe yang sedang di jalan ini. Di ujung unsur utara terdapat sekian banyak  gedung yang sekarang digunakan sebagai lokasi hiburan, bakery, kafe dan took souvenir. Wisata Di sebelah unsur selatan berbatasan dengan Jalan Asia Afrika dimana ada Savoy Homan Hotel, Sarinah Shop dan Black Cat Souvenir Shop.

Tempat Wisata Jalan Braga Bandung berkonsep One Stop Holiday di pusat Kota Bandung ini adalahpusat keramaian dan bisnis utama di kota Bandung.sejak zaman pendudukan Belanda di indonesia atau pada ,zaman kolonials, Jalan Braga Bandung telah dijadikan sebagai jalanan protokoler di kota Bandung,sebagai terusan jalan utama dari arah Gedung Konferensi Asia Afrika.

Sejarah Jalan Braga
Kata Braga konon berasal dari bahasa Sunda, Ngabaraga, yang berarti bergaya.  Kita memang masih dapat melihat bangunan-bangunan megah dan bergaya art deco sepanjang jalan ini. Pembangunan jalan ini erat dengan pembangunan jalan Anyer-Panarukan yang diperintahkan Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808-1811. Wisata Gedung ini dinamai Pedawiteg sebelum tahun 1882. Jalan dengan lebar sepuluh meter ini adalahpenghubung dari Groote Postweg, Jalan Asia-Afrika, dengan Koffie Pakhuis miliki Andries de Wilde yang sekarang menjadi Balai Kota Bandung.

Awalnya Jalan Braga ialah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang lumayan sunyi sehingga disebut Jalan Culik karena lumayan rawan, pun dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Wisata  Jalan Braga menjadi ramai karena tidak sedikit usahawan-usahawan khususnya berkebangsaan Belanda menegakkan toko-toko, bar dan lokasi hiburan di kawasan tersebut seperti toko Onderling Belang.

Kemudian pada dekade 1920-1930-an hadir toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang memungut model di kota Paris, Perancis yang saat tersebut adalahkiblat model pakaian di dunia.  Wisata  Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang dipakai untuk pertemuan semua warga Bandung terutama kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lain-lain di sejumlah blok di dekat jalan ini pun meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan ini.

Namun sisi buruknya ialah munculnya hiburan-hiburan malam dan area lampu merah (kawasan remang-remang) di area ini yang menciptakan Jalan Braga paling dikenal turis. Wisata Dari sinilah istilah kota Bandung sebagai kota kembang mulai dikenal. Sehingga perhimpunan masyarakat penduduk Bandung saat tersebut membuat selebaran dan pengumuman supaya “Para Tuan-tuan Turis usahakan tidak mendatangi Bandung bilamana tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah”.

Di sejumlah daerah dan kota-kota yang berdiri serta berkembang pada masa Hindia Belanda, pun dikenal nama jalan-jalan yang dikenal laksana halnya Jalan Braga laksana Jalan Kayoetangan di kota Malang yang juga lumayan termasyhur dikalangan semua Turis khususnya dari negeri Belanda pun Jalan Malioboro di Wisata Yogyakarta dan sejumlah ruas jalan di Jakarta. Namun sayangnya nama pribumi jalan ini tidak dijaga atau diolah dari nama sebelumnya yang dirasakan populer laksana halnya Jalan Kayoetangan di kota Malang diganti menjadi Jalan Basuki Rahmat.

Kawasan Bergengsi Zaman Belanda yang  Dilupakan
Jika Anda hendak mengekspresikan perasaan melewati seni, melakukan pembelian barang sandang yang khusus dengan produk-produk pribumi dari Paris, dan keadaan Eropa, datanglah ke area Braga. Demikian kenang Tjetje Padmadinata, figur masyarakat Jabar yang menjalani masa mudanya pada tahun 1950-an. Hal senada juga disebutkan penulis senior Her Suganda. Tapi sekarang, Braga seakan membisu, tak ikut berteriak laksana tempat-tempat hang out dan keramaian beda yang terdapat di sekian banyak  mal dan area utara Bandung. Beragam upaya telah dilaksanakan masyarakat Wisata Bandung dan pemerintahnya guna membangunkan kembali area Braga dari tidurnya.

Namun kelihatannya masih memerlukan waktu yang tidak tidak banyak untuk membangunkan kembali area ini. Tak heran bilamana popularitasnya kini ini tak seheboh tempat-tempat keramaian di mal atau area lain yang sebagian sudah memanfaatkan area yang dulunya hijau. Berbagai komunitas juga kerap mengemban kegiatannya di kawasan tersebut dengan tujuan dapat kembali meramaikan area Wisata Braga. Namun seusai kegiatannya, kawasan tersebut kembali bergerak tenang. Keramaian yang terdapat hanyalah padatnya arus kemudian lintas. Meskipun masih mendingan ada pesona toko-toko di sana yang tetap buka serta saudagar lukisan di sepanjang trotoar Jalan Braga.

Kawasan itu sampai sekarang masih diuntungkan oleh adanya sejumlah obyek gedung tua yang masih terawat laksana Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA). Gedung tua lainnya pun telah menjadi saksi bisu pertumbuhan Kota Kembang di Braga. Kini gedung-gedung itu melulu menjadi latarbelakang wisatawan lokal atau mancanegara yang hendak berfoto ria. Pemerintah pun telah mulai menggandeng komunitas masyarakat Wisata Bandung guna menghidupkan pulang Braga. Bahkan semenjak 2005 lalu bermunculan even teratur yang disebut Braga Festival. Bahkan Pemkot Bandung telah mengolah Jalan Braga yang awalnya berupa jalan aspal menjadi jalan batuan andesit yang sampai sekarang masih menuai permasalahan.

Tjetje Padmadinata menuliskan harapannya untuk dapat kembali mewujudkan nostalgianya. Dikatakannya, dulu ibunya bercerita bila di area Braga masih tidak sedikit pohon pisang dan ketika Tjetje remaja kawasan tersebut menjadi lokasi belanja, dan restoran yang sangat bergengsi. “Jadi orang tersebut akan merasa tenang dan bangga bila sudah menyediakan waktu ke Braga,” kata Tjetje yang menjadi keynote speak dalam Diskusi Menggagas Braga di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan.

Kawasan yang tidak pernah sepi sekitar 24 jam ini memang adalahtempat lengkap untuk wisatawan. Berbagai jenis aksesoris, oleh-oleh, dan panganan khas Wisata Bandung terdapat di sini. Di samping wisata belanja, Jalan Braga pun dihiasi oleh arsitektur estetis khas bangunan tempo dulu. Bangunan-bangunan peninggalan zaman penjajahan Belanda masih berdiri megah di sini.

Jalan Braga sangat pas dinikmati dengan teknik berjalan kaki. Jelas saja, karena jalan ini merupakan area pendestrian Kota Bandung yang diputuskan saat Braga Festival dilangsungkan pada 2011 lalu. Semenjak itu, Jalan Braga kian ramai dikunjungi oleh semua wisatawan. Orang bilang, menyusuri Jalan Braga sangat asyik ketika malam hari. Lampu-lampu sepanjang jalan dan arsitektur bangunan menghadirkan sensasi masa lampau. Tapi tidak boleh salah, menyusuri Jalan Braga di siang hari pun tak kalah seru, lagipula cuaca Kota Bandung yang familiar sejuk setia mendampingi perjalanan Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

For You ^_^

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”.(HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu)